Senin, 06 Agustus 2012

Berhenti Merokok Itu Demi Siapa?

Jakarta, Bagi beberapa orang terutama yang sudah masuk kategori perokok berat cenderung sulit melepaskan kebiasaannya ini. Tapi jika perokok ingin menghentikan kebiasaannya, maka demi siapa ia melakukannya?

"Alasan orang berhenti merokok biasanya pertama kali karena sudah sakit, jadi untuk dirinya sendiri," ujar Dr Nancy Tobing Hutabarat, SpP, FCCP, MARS, dokter ahli paru RSUD Pasar Rebo Jakarta

Selain itu Dr Nancy menjelaskan ada hal lain yang turut mempengaruhi seseorang mampu berhenti merokok yaitu ada niat yang kuat serta pengaruh dari keluarga misalnya anak jadi batuk-batuk.

Beberapa penyakit yang bisa membuat orang berhenti merokok misalnya batuk yang tak kunjung sembuh, gangguan seperti flek di paru-paru, tuberculosis bahkan hingga penyakit kanker. Ini karena rokok membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga mudah tertular atau terserang penyakit.

Dr Nancy menuturkan faktor-faktor berhenti merokok sangat sulit ditentukan, tapi hal yang terpenting adalah adanya niatan dari dalam dirinya bahwa merokok tidak ada gunanya untuk tubuh.

Hal ini karena efek dari rokok bisa baru muncul setelah bertahun-tahun akibat efek adiksi yang bertambah. Jadi umumnya perokok tidak menyadari bahwa kebiasan yang dilakukannya berbahaya tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang orang lain.

"Perokok pasif menghirup asap rokok secara sempurna karena ia sama sekali tidak punya ketahanan tubuh, ini berbeda dengan perokok aktif yang punya sistem imun untuk melawan. Karenanya perokok pasif lebih rentan memiliki dampak buruk," ungkapnya.

Ada studi yang menunjukkan sekitar 8 dari 10 istri-istri dari suami yang perokok aktif memiliki kanker paru, karena itu merokok membahayakan semua orang dan nggak ada manfaatnya dari merokok itu.

Sementara itu dr Tribowo Tuahta Ginting, SpKJ yang bergabung menjadi tim dokter di Klinik Berhenti Merokok RSUP Persahabatan menyatakan kebanyakan orang berhenti merokok karena keluarga seperti anak, istri atau pasangan sama kesehatan dirinya sendiri dan orang lain.

"Biasanya karena merasa badannya sudah nggak enak, atau karena ia baru memiliki anak. Tapi biasanya karena dari dirinya sendiri memang sudah punya niat sebelumnya dan didukung oleh orang-orang disekitarnya," ujar dr Tribowo.

British American Tobacco Laporkan Peningkatan Keuntungan

London (AFP/ANTARA) - British American Tobacco, pembuat rokok terbesar kedua di dunia, mengatakan pada Rabu keuntungan bersih semester pertama mereka meningkat pada permintaan pasar negara berkembang dan harga yang lebih tinggi.

Keuntungan setelah pajak meningkat sebanyak 3,0 persen menjadi 1,93 miliar poundsterling (sekitar Rp28,39 triliun) dalam enam bulan sampai Juni, dibandingkan dengan 1,87 miliar poundsterling (sekitar Rp27,51 triliun) pada tahun fiskal sebelumnya di periode yang sama.

Pendapatan mereka naik tipis menjadi 7,45 miliar poundsterling (sekitar Rp109,62 triliun) dari 7,44 miliar poundsterling (sekitar Rp109,47 triliun) sebelumnya, kata BAT dalam sebuah pernyataan.

"Walaupun ada ketidakpastian ekonomi global dan dampak merugikan nilai tukar mata uang, British American Tobacco mencapai hasil yang sangat memuaskan," kata direktur Richard Burrows.

"Usaha ini terus berjalan dengan baik dan kami yakin terjadi kenaikan penghasilan di tahun yang akan datang

sumber: yahoonews.com 

YKI: Kalau Nggak Ada Rokok, 50 Persen Kasus Kanker Hilang

Jakarta, Kebiasaan rokok banyak dikaitkan dengan makin meningkatnya kasus kanker belakangan ini. Bahkan menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), 50 persen kasus kanker yang ada di seluruh dunia akan hilang jika tidak ada lagi orang yang merokok.

"Sekitar 50 persen masalah kanker itu disebabkan oleh rokok. Jadi kalau nggak ada rokok, 50 persen kasus kanker hilang," kata Dr Ulfana Said Umar, Wakil Sekretaris Umum YKI usai launching Cigna Complete Cancer Protection di Restoran Bebek Bengil Menteng, Kamis (2/8/2012).

Dari sekitar 4.000 senyawa yang terkandung dalam rokok, 60 senyawa di antaranya merupakan karsinogen atau zat pemicu kanker. Oleh karenanya, tidak heran jika rokok selalu dikambinghitamkan sebagai faktor pemicu dalam berbagai jenis kanker pada manusia.

Jenis kanker yang paling banyak dikaitkan dengan rokok umumnya berkaitan dengan saluran nafas terutama paru-paru, yang memang terlibat kontak langsung dengan asap rokok. Data dari RS Persahabatan misalnya, mengungkap bahwa 9 dari 10 pasien kanker paru punya riwayat merokok.

Bahkan jenis-jenis kanker pada organ yang tidak secara langsung terlibat kontak dengan asap rokok, juga banyak berhubungan dengan riwayat merokok. Misalnya para perempuan, kanker serviks atau leher rahim dan kanker payudara juga sering dikaitkan dengan rokok sebagai faktor risiko.

Sayangnya, peraturan yang mengendalikan konsumsi rokok di Indonesia termasuk yang paling lemah dibanding negara lain di dunia. Harga rokok di Indonesia masih termasuk yang paling murah, boleh dijual eceran dan dibeli anak-anak, serta belum terlalu ketat mengatur area bebas rokok.

Akibatnya dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah perokok yang kebetulan dibarengi dengan peningkatan jumlah penderita berbagai jenis kanker. Bahkan data dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menunjukkan, jumlah perokok di kalangan anak usia 10-14 tahun naik lebih dari 4 kali lipat sejak 1995.


sumber : detik health.com

Yang Bikin Orang Merokok Lagi Setelah Bisa Berhenti

Jakarta, Berhenti merokok bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan, karena itu tak jarang banyak orang terjerumus untuk merokok lagi. Ini dia beberapa hal yang bisa bikin orang merokok lagi.

"Keinginan untuk merokok lagi pasti ada, misalnya jika ia bertemu dengan teman di kantor atau komunitasnya yang menawari rokok maka bisa membuatnya merokok lagi meski ia sudah berhenti total," ujar Dr Nancy Tobing Hutabarat, SpP, FCCP, MARS, dokter ahli paru RSUD Pasar Rebo Jakarta, saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (25/7/2012).

Dr Nancy menjelaskan hal yang paling utama membuat orang kembali merokok lagi adalah karena pengaruh dari adiksi nikotin yang ada serta gaya hidupnya misal masih suka bergabung dengan komunitas yang banyak merokok.

"Nikotin di dalam rokok yang bikin orang jadi kecanduan, dan gangguan serta adiksi dari nikotin ini seperti heroin dan juga kokain," ujar Dr Nancy yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Hal lain yang bisa memicu orang untuk merokok lagi adalah kurangnya dukungan dari orang-orang disekitarnya termasuk teman dan keluarga, karena melihat atau mencium bau rokok saja sudah bisa menggoda orang untuk kembali merokok.

Salah satu hal yang bisa membuat orang terbebas dari rokok adalah caranya mengubah pola pikir tentang kebiasaan buruknya ini. Misalnya jika seseorang berhenti merokok karena alasan tertentu seperti stres maka suatu saat nanti ia bisa saja kembali merokok jika bertemu dengan pemicu potensialnya ini.

Selain itu pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki tentang rokok dan bahayanya menjadi bagian yang penting saat seseorang mencoba untuk bebas dari kecanduannya ini. Serta dibutuhkan kesabaran dari dirinya sendiri terutama jika perasaan ingin menyerah atau merokoknya muncul lagi.

Jika sampai kambuh lagi, sebaiknya tetaplah berpikir positif dan kumpulkan kembali semangat untuk terus mencoba berhenti merokok. Ini karena manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dengan berhenti merokok sangat layak dan patut untuk diperjuangkan.

"Bagi saya orang yang merokok itu tidak berpendidikan, karena kalau ia berpendidikan maka ia nggak akan merokok dan tidak akan merusak dirinya sendiri dan lingkungannya," ujar Dr Nancy.

sumber: detik health.com

Minggu, 05 Agustus 2012

WORLD TOBACCO ASIA 2012

World tobacco asia ( WTA ) adalah sebuah pameran dan konferensi untuk memasarkan dan membahas isu isu terbaru yang berhubungan dengan produl rokok acara ini rutin di adakan setiap tahunya dan tuan rumahnya di gilir dari masing masing negara. dan tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah WTA 2012 ( apakah itu sesuatu hal yang perlu di banggakan ?) padahal menurut info negara negara di asia menolak menjadi tuan rumah acara akbar ini hanya indonesia yang menerima dengan sangat bangga

KENAPA INDONESIA BISA DI PILIH ?
Indonesia memiliki salah satu industri tembakau paling dinamis di mana konsumsi tembakau masih tumbuh dengan subur dan  dan pemerintah mendukung acara tersebut karena melihat dampak postif terhadap industri temabaku di indonesia. Indonesia adalah negara terbesar ke-5 dalam pasar kreteknya. Sekitar 57% dari populasi pria dewasa Indonesia dan sekitar 5% dari populasi wanita dewasa adalah seorang perokok , yang berarti populasi perokok sekitar 43 juta.Indonesia juga merupakan pasar pertumbuhan. Pandangan umum adalah bahwa pasar Indonesia meningkat sekitar 5% pada tahun 2008, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, untuk beberapa batang 168bn. Hal ini disebabkan pertumbuhan populasi orang dewasa dan kenyataan bahwa kenaikan pajak rokok-driven harga sudah lebih rendah daripada tingkat inflasi umum. Dan, serta merekam tahun konsisten pada pertumbuhan tahun, pasar telah berubah.

banyak yang beranggapan bahwa acara ini adalah sebuah PENGHINAAN terhadap bangsa indonesia karena dalam situs resmi WTA terdapat tulisan " indonesia is a recognized tobacco-friendly market with no smoking bans or other restrictions and regulations in contracts to neighboring ASEAN countries. IN 2009, the asia pacific regions added six million new smokers and will another 30 million smokers by 2014 "  

lalu apakah INDONESIA BISA BERBANGGA melihat kesehatan bagi rakyatnya sendiri terinjak injak oleh politik marketing indusrty ?



sumber:  festivalindonesia.wordpress.com/2010/09/21/world-tobacco-asia-2012

Jumat, 27 Juli 2012

JANGAN LAGI MEROKOK DI DEPAN ANAK

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional Perlindungan Anak menilai pemenuhan hak kesehatan anak masih sangat lemah. Salah satu bukti nyata, kualitas kesehatan anak terancam akibat kepungan asap rokok.
"Menurut saya adalah mari kita selamatkan anak-anak dari kepungan asap rokok. Mereka pasti akan terganggu kesehatannya. Kita mengimbau berhentilah merokok, dan tidak merokok di depan anak," ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak  Arist Merdeka Sirait di kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (23/7/2012).
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2012, Arist mengajak para perokok aktif untuk tidak lagi merokok di depan anak. Dikatakannya, terdapat 89 juta keluarga Indonesia adalah perokok. Jika terdapat anak-anak di bawah umur 3 tahun pada 89 juta keluarga perokok itu, maka terdapat 89 anak menjadi perokok pasif.
"Berarti ada 89 juta anak-anak, umur 3 tahun itu terkepung dengan asap rokok. Dan itu akan mengganggu kesehatannya. Karena dia akan menjadi perokok pasif," terangnya.
Menurut Arist, pemerintah harus segera mengeluarkan peraturan mengenai pengendalian dampak industri rokok untuk menjamin kesehatan anak. Hak anak atas kesehatan masih sangat minim.
"Anak mempunyai hak untuk mendapat kesehatan yang memadai. Maka pemerintah harus memberikan jaminan itu," terangnya.
Menurut laporan Badan PBB untuk masalah anak-anak (UNICEF), tingkat kematian anak/bayi di Indonesia masih relatif tinggi. Kepala Bagian kelangsungan hidup dan perkembangan anak UNICEF, Dr Robin Nandy, dalam sebuah pernyataan resmi menyebutkan, saat ini diperkirakan 150.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahunnya sebelum mereka mencapai ulang tahun kelima.
SUMBER : KOMPAS.COM

Rabu, 25 Juli 2012

Puasa Jadi Momen Tepat untuk Tobat Merokok?

Jakarta, Tidak sedikit perokok yang memanfaatkan bulan puasa sebagai momen untuk berhenti merokok. Jika makan dan minum yang merupakan kebutuhan pokok saja bisa dibatasi, bisakah merokok yang jelas tidak ada manfaatnya dihentikan saat puasa?

Aby, seorang karyawan swasta di Jakarta memiliki tekad bulat untuk menghentikan kebiasaan merokok yang dimulainya sejak duduk di bangku SMP. Jika berhasil, maka bulan Ramadan 1433 H, atau bulan puasa tahun ini bakal menjadi momen bersejarah bagi lelaki paruh baya ini.

Niat berhenti merokok memang tidak diputuskan oleh Aby bertepatan dengan awal bulan puasa, melainkan sudah sejak 3 pekan yang lalu. Namun diakuinya, datangnya bulan Ramadan tidak lama sesudahnya telah menjadi motivasi tersendiri untuk menyukseskan tekadnya tersebut.

"Awalnya saya berhenti karena batuk-batuk. Begitu batuk sembuh, pas masuk bulan puasa. Jadi Alhamdulillah, puasa memang benar-benar membantu," kata Aby yang mengaku mengalami radang paru-paru, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (25/7/2012).

Tentu tidak mudah bagi Aby yang selama ini tergolong perokok berat, yang biasanya dalam sehari bisa menghabiskan 3 bungkus rokok. Butuh motivasi yang sangat kuat, untuk bisa benar-benar langsung lepas dari kecanduan tanpa melalui tahapan mengurangi sedikit-sedikit.

Keinginan kuat untuk memanfaatkan bulan puasa sebagai momen berhenti merokok juga dialami oleh Saryono, seorang sopir jasa transportasi di Jakarta. Laki-laki 28 tahun asal Cilacap ini sudah meneguhkan hati, untuk mengucapkan selamat tinggal pada asap tembakau pada bulan puasa tahun ini.

"Saya yakin bisa berhenti. Istri mendukung, sementara anak saya juga sudah mulai besar. Sudah 4 tahun, sebentar lagi masuk TK," kata Saryono yang biasa menghabiskan 2 bungkus rokok Sampoerna Mild perhari, bahkan sebelumnya lebih parah lagi karena rokoknya adalah tembakau linting tanpa filter.

Diakui oleh Saryono, memang tidak mudah untuk berhenti merokok pada bulan puasa. Pasalnya di lingkungan tempat kerjanya, rekan-rekan yang habis buka puasa atau sahur pasti merokok bersama-sama sehingga selalu ada keinginan untuk bergabung dan bersama-sama menghisap asap tembakau.

Sementara Wawan, seorang karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Selatan mengaku belum berani menargetkan berhenti merokok pada bulan puasa tahun ini. Namun ia memastikan, momen ini akan ia manfaatkan untuk mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya setiap hari.

"Biasanya sehari satu bungkus. Ini sekarang sudah puasa hari kelima baru habis satu bungkus. Niatnya sih seterusnya, tapi lihat saja nanti," kata Wawan yang sebenarnya merasa tidak bebas untuk merokok di tempat kerjanya, karena harus pergi ke tangga darurat yang jarang dilalui orang.

Bagi Wawan, bulan puasa merupakan momen yang paling tepat untuk mengurangi atau bahkan berhenti merokok sama sekali. Selain tidak bisa merokok di siang hari karena akan membatalkan puasa, juga karena malamnya harus ikut tarawih sehingga waktu merokoknya otomatis ikut terpangkas.

Berhenti merokok di bulan puasa telah menjadi tren di kalangan perokok, yang mulai menyadari pentingnya hidup sehat jauh dari asap rokok. Begitu ada motivasi, maka kecanduan akan jauh lebih mudah diatasi karena secara medis maupun keagamaan, merokok di bulan puasa sangat tidak dianjurkan.

Namun kadang, berhenti merokok hanya bisa dilakukan selama bulan puasa lalu kambuh lagi di bulan-bulan berikutnya. Sebenarnya, berhenti merokok di bulan puasa itu susah atau mudah? Ikuti terus liputan khusus tentang 'Tobat Merokok di Bulan Puasa'.

sumber : detikhealth.com